Rangkaian acara dimulai sejak pagi hari dengan briefing dan persiapan panitia, dilanjutkan dengan registrasi serta pengkondisian peserta. Memasuki sesi opening ceremony, suasana berlangsung khidmat melalui pembukaan, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, serta menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars UIN Raden Mas Said.
Memasuki inti pembukaan, sesi sambutan menjadi titik penting yang memberi arah terhadap jalannya kegiatan. Ketua panitia, Rizka Fauziah, dalam sambutannya menekankan bahwa isu keberlanjutan bukan lagi sekadar wacana, melainkan tanggung jawab yang harus mulai diinternalisasi oleh mahasiswa. Ia mengajak seluruh peserta, khususnya mahasiswa Manajemen Bisnis Syari’ah, untuk mampu menerapkan nilai keberlanjutan dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, integrasi antara kepedulian lingkungan dengan konsep bisnis berbasis maqashid syari’ah menjadi fondasi penting dalam membangun model bisnis yang tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi juga membawa kemaslahatan.
Sambutan berikutnya disampaikan oleh Ketua Umum HMPS MBS 2026, Dwi Cahyono Ardhi. Ia menegaskan bahwa kehadiran narasumber dari FEBI UIN Salatiga bukan hanya untuk menyampaikan materi secara teoritis, tetapi menjadi ruang untuk saling bertukar wawasan. Forum ini dimanfaatkan untuk melihat bagaimana FEBI UIN Salatiga dan FEBI UIN Surakarta membangun pendekatan keberlanjutan, lalu merangkum intisari dari masing-masing kebijakan yang dapat diadaptasi.
Lebih jauh, ia mengajak peserta untuk melihat green entrepreneurship secara lebih kritis bukan hanya sebagai istilah populer, tetapi sebagai peluang nyata yang perlu dibaca secara rasional dan strategis. Dalam kesempatan tersebut, ia juga memperkenalkan program konkret bertajuk “MBS SustainCup Project”, sebuah gerakan membawa tumbler guna menekan penggunaan botol plastik sekali pakai di lingkungan fakultas dan kampus secara luas. Program ini selaras dengan inisiatif “FEBI Zero Plastik” dan diharapkan mampu menjadi gerakan berkelanjutan, dengan HMPS MBS Kabinet Astravera 2026 sebagai aktor utama dalam membangun kesadaran kolektif.
Sambutan ketiga disampaikan oleh Ketua Prodi MBS, Rina Hastuti, S.E., M.M., Ph.D, yang pada kesempatan ini diwakili oleh Sekretaris Program Studi, Dr. Suryati, S. Pd., M. E. K. Dalam penyampaiannya, beliau menyoroti pentingnya mengintegrasikan nilai green entrepreneurship dengan prinsip syari’ah secara seimbang. Ia menegaskan bahwa keberlanjutan tidak hanya berbicara tentang lingkungan, tetapi juga harus berpijak pada nilai keadilan, kemaslahatan, dan tanggung jawab sosial. Dengan pendekatan tersebut, mahasiswa diharapkan mampu menemukan titik tengah antara inovasi bisnis dan nilai etis, sehingga mampu melahirkan solusi yang tidak hanya relevan, tetapi juga berkelanjutan.
Sebagai bagian dari penguatan pesan, dilakukan pemutaran video yang menggambarkan kondisi pencemaran lingkungan, mulai dari sungai hingga lautan, serta lamanya proses alam dalam mengurai sampah plastik. Suasana menjadi reflektif sebelum akhirnya dilanjutkan dengan pemukulan gong sebanyak tiga kali sebagai tanda resmi diluncurkannya program MBS SustainCup Project.
Momentum ini kemudian diperkuat dengan penyerahan tumbler kepada narasumber, Dr. Saifuddin Zuhri, M.Si, yang merupakan produk sekaligus inovasi dari HMPS MBS Kabinet Astravera 2026. Penyerahan ini tidak hanya bersifat simbolis sebagai kenang-kenangan, tetapi juga menjadi representasi nyata komitmen mahasiswa (ormawa FEBI UIN Surakarta) dalam menghadirkan solusi konkret terhadap persoalan lingkungan—dimulai dari perubahan kebiasaan sederhana, yaitu mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan sesi foto bersama antara narasumber, pihak program studi, dan peserta.
Memasuki sesi inti, workshop dipandu oleh moderator Zalfa Melia Putri Supriyanto. Dalam pemaparannya, Dr. Saifuddin Zuhri, M.Si menjelaskan bahwa green entrepreneurship merupakan solusi strategis dalam menjawab tantangan krisis lingkungan, ketimpangan ekonomi, serta transformasi digital. Ia menekankan pentingnya integrasi antara inovasi teknologi dan prinsip maqashid syari’ah sebagai fondasi dalam membangun model bisnis yang tidak hanya berorientasi pada profit, tetapi juga keberlanjutan dan kemaslahatan.
Lebih lanjut, disampaikan bahwa Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan ekonomi hijau, namun masih dihadapkan pada berbagai tantangan seperti kualitas SDM, kesenjangan sosial, serta belum optimalnya integrasi sistem ekonomi berkelanjutan. Oleh karena itu, diperlukan sinergi antara akademisi, pelaku bisnis, pemerintah, dan masyarakat, termasuk peran mahasiswa sebagai agen perubahan dalam membangun ekosistem green entrepreneurship yang kuat.
Sesi diskusi yang dibuka setelah pemaparan materi berlangsung aktif dan interaktif. Berbagai pertanyaan yang diajukan menunjukkan antusiasme sekaligus upaya peserta dalam memperdalam pemahaman terhadap materi yang disampaikan.
Menutup rangkaian kegiatan, dalam closing statement-nya, narasumber mengajak seluruh peserta untuk bersama-sama menjaga dan melestarikan bumi sebagai warisan dari generasi sebelumnya, sekaligus amanah yang harus dijaga untuk generasi mendatang. Pesan ini menjadi penegas bahwa keberlanjutan bukan hanya konsep, tetapi tanggung jawab bersama.
Sebagai penutup, dilakukan penyerahan kenang-kenangan dari Ketua Umum kepada narasumber serta dari Ketua Panitia kepada moderator, dilanjutkan dengan sesi foto bersama sebagai bentuk kebersamaan dan penutup rangkaian acara.
Workshop ini resmi ditutup oleh MC, dengan harapan besar bahwa seluruh gagasan yang lahir tidak berhenti di ruang diskusi, tetapi benar-benar diwujudkan dalam langkah nyata.
